6 Oct 2010

Author: diahn09 | Filed under: Academic

FERTILISASI TRANSJENIS HEWAN

Sebuah Fakta atau Ilusi???

Oleh :

Diah Nugrahani Pristihadi

B04090039

Dalam dunia ini, makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana untuk hidup berdampingan. Mereka menempati satu tempat yang sama dan beberapa diantaranya mempergunakan sumber pangan yang sama. Hingga tak dapat disangkal mereka harus berebut makanan. Dengan interaksi yang demikian dekatnya, apakah mungkin dua individu yang berasal dari spesies yang berbeda melakukan proses perkawinan??

Proses perkawinan merupakan salah satu ciri pembeda antar organisme, yaitu didasarkan kepada kemampuan organisme untuk dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan yang fertile (subur) atau memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Memiliki kemampuan berarti kedua organism tersebut dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan yang fertile, meskipun hal tersebut tidak terjadi di alam [Fiktor : 2007].

Pada jaman dahulu, setiap perkawinan dari organisme di alam terjadi tanpa campur tangan manusia, mereka melakukannya berdasarkan naluriah. Fakta yang terjadi menunjukkan bahwa mereka melakukan perkawinan sesama jenis. Salah satu yang menjadi bukti adalah pemilihan kepala kelompok dalam suatu kawanan. Pemilihan kepala kelompok ini bukan hanya semata-mata untuk menjaga kawanan dari serangan musuh dan untuk mengadakan koordinasi, tetapi juga menjaga kawanan dari percampuran dengan spesies lain. Jadi, dengan adanya kawanan-kawanan tersebut akan menyebebkan tidak ada perkawinan antar jenis. Mengapa demikian??

Dalam suatu kawanan hewan biasanya dipilih pemimpin yang cakap. Dalam artian dunia hewan, cakap berarti tangguh, kuat, dan besar. Kawanan zebra misalnya, dalam pemilihan kepala sukunya, biasa dilakukan dengan perkelahian. Sang pemimpin inilah yang menentukan apa yang akan dilakukan kawanannya. Dialah yang member instruksi untuk berlari jika ada bahaya, atau memimpin rombongan untuk berpindah tempat jika dirasa tempat mereka tinggal selama ini tidak lagi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Tidak hanya itu, dalam bidang reproduksi, pemimpin kelompok adalah pejantan yang memiliki beberapa betina. Di lain sisi, para betina menunjukkan sikap untuk menarik perhatian pejantan-pejantan tangguh dalam kawanan itu. Nampaknya, tiap spesies memiliki pengertian sendiri-sendiri tentang apa yang mereka anggap sebagai pejantan yang tangguh. Jadi, meskipun para betina dalam kawanan zebra ini melihat pejantan-pejantan jerapah di habitat yang sama, mereka tidak akan tertarik. Karena mungkin saja pengertian pejantan yang tangguh menurut si zebra betina tidak sama dengan pejantan tangguh kawanan jerapah. Maka dengan hubungan yang demikian tidak mungkin terjadi perkawinan antar spesies.

Secara ilmiah, hal ini diterangkan Campbell demikian, setiap spesies memiliki cara tersendiri untuk mengisolasi jenisnya.

Cara pertama yang digunakan adalah cara alamiah, yaitu isolasi perilaku, temporal, mekanis (beda anatomi) dan habitat [Campbell]. Jadi, cerita yang di atas tadi adalah penggambaran isolasi ini. Zebra tidak akan melakukan perkawinan dengan jerapah dikarenakan anatomi tubuh mereka yang berbeda. Sangat tidak mungkin zebra jantan mengawini jerapah betina, sedang sang jerapah memiliki badan yang lebih tinggi. Andaikata pun ada seekor zebra dewasa yang lebih tinggi dari jerapah, mereka juga tidak akan melakukan perkawinan. Terjadinya hal ini dikarenakan perbedaan-perbedaan yang lain, diantaranya perbedaan perilaku. Lagi pula, pemimpin jerapah tidak akan mau tersaingi dengan adanya pendatang baru di kawanannya, apalagi yang berbeda jenis.

Lantas bagaimana dengan perkembangan teknologi dewasa ini? Proses reproduksi dapat dimanipulasi manusia. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh manusia. Mulai dari pemilihan bibit dengan gen terbaik, mengupayakan terjadinya fertilisasi di luar tubuh, mengupayakan perbantuan proses implantasi blastosis yang zona pelusidanya sulit untuk memecah, sampai-sampai melakukan fertilisasi tanpa melalui proses bertemunya alat kelamin jantan dengan betina. Untuk proses yang terakhir ini, dilakukan di luar tubuh, in vitro. Para peneliti mengambil sel telur yang sudah siap untuk dibuahi dari betina, lalu disuntikkan kepadanya sperma-sperma yang sudah matang dari pejantan. Proses ini sangat menguntungkan bagi pasangan yang mengalami gangguan reproduksi, seperti kurangnya motilitas sperma, sehingga sebelum membuahi ovum, sel sperma tersebut telah mati.

Terobosan ini juga menimbulkan kekhawatiran, misalnya, mungkinkah kita mengadakan fertilisasi ovum dan sperma yang berasal dari jenis hewan yang berbeda??

Ternyata hewan memiliki jenis isolasi yang lain, yaitu isolasi produktif. Yang dimaksud dengan isolasi produktif adalah suatu mekanisme yang dimiliki oleh hewan, sehingga meskipun terjadi perkawinan antar spesies, karena suatu hal, gamet  jantan tidak pernah dapat melakukan fetilisasi atau gagal melakukan fertilisasi dengan gamet betina [Campbell].

Kegagalan fertilisasi ini bisa berbagai cara. Misalnya, suatu sperma dari jenis hewan A, akan sulit bergerak di uterus hewan B karena kekentalan cairan di dalamnya yang berbeda. Motilitas sperma yang berkurang ini dapat juga dikarenakan suatu enzim di dalam uterus yang bersifat inhibitor kepada sperma hewan lain, bahkan bisa saja dengan keberadaan enzim ini menyebabkan kematian sperma.

Hal lain yang menjadi penghambat adalah perbedaan suhu. Sperma hewan A dapat berkembang dengan baik jika berada pada hewan sejenisnya yang bersuhu XoC. Namun, karena hewan X difertilisasikan ke hewan B yang memiliki suhu normal YoC, maka perkembangan sperma terhambat.

Jadi, demikianlah factor lingkungan memengaruhi fertilisasi antar spesies. Meski demikian, sebagai manusia yang selalu mengembangkan kreatifitasnya, mereka berfikir, masih memungkinkan untuk mengadakan fertilisasi antar jenis dengan cara dilakukan di luar tubuh induknya. Dengan mengupayakan pengurangan hal-hal yang menjadi factor penghambat, seperti penyesuaian suhu, pengurangan enzim inhibitor, atau dengan menambahkan zat yang menjadi pengunci inhibitor tersebut, diharapkan fertilisasi antar spesies dapat terjadi. Namun, mungkinkah ini berhasil??

Isolasi yang dilakukan hewan tidak berhenti seperti itu saja. Masih ada cara pengisolasian agar jenisnya tidak tercampur, yaitu dengan isolasi postfertilisasi. Cara pengisolasian ini terjadi ketika ternyata antara sperma dan ovum telah berhasil terjadi fertilisasi.

Pengisolasian dilakukan dengan cara memberi pengaruh kepada zigot. Jadi, meski terbentuk zigot, perkembangannya terganggu. Zigot tidak tumbuh menjadi embrio. Atau andaikata menjadi embrio, pertumbuhan embrio mengalami gangguan. Gangguan yang terjadi misalnya embrio tidak dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama, tidak memiliki system imuno, gangguan anatomi, fisiologis, bersifat steril (mandul), dll.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa fertilisasi sperma dan ovum transjenis hewan sangat sulit dilakukan. Bahkan saya menganggap bahwa persilangan trans jenis hewan ini adalah suatu kekejian. Mengapa demikian??

Ketika kita menyilangkan sperma dan ovum apa yang akan kita dapatkan? Zigot. Zigot adalah satu sel, benar? Bukankah dari satu sel ini memiliki sifat totipoten? Dari satu sel ini memiliki kemampuan untuk menjadi bagian manapun dari tubuh yang terbentuk nantinya. Nah, bagaimana jika yang kita lakukan adalah persilangan antara monyet dengan kucing. Untung saja kalau hanya mukanya saja yang mengalami perubahan, kucing bermuka monyet. Tapi bagaimana jika besar tubuhnya sebesar monyet, sedang jantungnya sebesar jantung kucing. Inikah hasil persilangan yang diupayakan manusia, menyaksikan hasil persilangannya tergolek lemas, karena darah tidak bisa beredar semestinya??

Atau mungkin dengan contoh lain, persilangan antara kucing dengan tikus. Misalnya sebagai hasil persilangannya berupa tikus, tetapi berkepala kucing, apa yang terjadi? Mungkin, pada awalnya, ketika species baru ini kita campur dengan kawanan tikus, kawanan tikus itu ketakutan. Namun demikian, setelah sekian lama, kawanan tikus akan menyadari, bahwa species baru yang mirip kucing ini tidak menakutkan, sehingga mereka tidak lagi takut terhadap kucing. Akibatnya, jumlah tikus menurun karena penangkapan tikus oleh kucing semakin mudah. Tetapi, apakah kita menjamin dengan persilangan itu hanya kepalanya yang berubah? Apakah tidak ada dampak fisiologis yang lain? Lalu apakah dengan semakin mudahnya penangkapan tikus oleh kucing menyelesaikan masalah?? Bukankah biosfer ini merupakan suatu keseimbangan, dimana setiap elemennya merupakan tiang dari keseimbangan itu??

Telah kita lihat betapa kompleksnya permasalahan yang timbul dari persilangan antar jenis ini. Yang sebaiknya kita lihat sekarang salah satunya adalah fenomena berikut.

Di sekitar kita, banyak kita temui hewan air yang melepaskan gametnya ke dalam air. Seperti yang kita tahu, air terdiri dari molekul-molekul yang bergerak dengan bebasnya. Meskipun di sekitar gamet itu terdapat kerabat-kerabat hewan lain yang melepaskan telur, tetapi mereka tidak saling membuahi antar spesies. Mereka memiliki system pengenalan gamet yang mungkin melalui kehadiran suatu molekul spesifik pada lapisan telur, yang hanya mau bereaksi dengan molekul spesifik lain sebagai reseptor, yang berada di sperma sejenisnya.

Nah, bukankah hal tersebut di atas adalah hal yang istimewa. Mungkinkah di balik ke-spesifik-an itu mengandung maksud tertentu? Ataukah memang manusia diciptakan untuk diberi peer merencanakan persilangan antar jenis demi yang lebih baik?

Jadi, marilah kita jawab pertanyaan ini, asal kita bertindak dengan pertimbangan yang benar-benar matang, bertujuan untuk mengupayakan yang terbaik, dan bukan hanya coba-coba.

Sumber

Campbell. 2002. Biology. Jakarta : Gramedia

Ferdinand, fiktor.  2007. Praktis Belajar Biologi. Jakarta : Visindo Media Persada

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme